Tekno

Haka Auto Ungkap Tantangan Mobil Listrik BYD, dari Baterai hingga SPKLU

Winna Wandayani | 29 Oktober 2026, 14:44 WIB
Haka Auto Ungkap Tantangan Mobil Listrik BYD, dari Baterai hingga SPKLU
Pengisian daya SPKLU pada BYD M6 DM (Haka Auto)

AKURAT.CO Penggunaan mobil listrik di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama terkait infrastruktur pengisian daya dan jarak tempuh. Kondisi tersebut membuat konsumen mempertimbangkan lebih banyak aspek sebelum beralih ke kendaraan listrik.

General Manager Marketing, Aftersales & Customer Experience Haka Auto, Muhammad Shobirin, mengatakan konsumen semakin memperhatikan efisiensi, keselamatan dan kenyamanan. Biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang juga menjadi pertimbangan pembelian.

"Respons konsumen menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap kendaraan listrik semakin berkembang dari sekadar rasa ingin tahu menjadi pertimbangan pembelian yang lebih konkret," kata Shobirin kepada Akurat.co, Kamis (29/10/2026).

Salah satu perkembangan teknologi yang menjadi perhatian adalah Blade Battery 2.0 yang diperkenalkan BYD di Indonesia pada Oktober 2026. Baterai generasi kedua tersebut dipadukan dengan teknologi Flash Charging untuk mempercepat pengisian daya.

BYD mengklaim kendaraan yang kompatibel dapat mengisi daya dari 10 hingga 70 persen dalam lima menit. Sementara itu, pengisian dari 10 hingga 97 persen disebut membutuhkan sembilan menit dalam kondisi lingkungan normal.

Meski demikian, kecepatan pengisian daya bukan satu-satunya faktor yang menentukan penggunaan mobil listrik. Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan layanan purnajual juga memengaruhi kenyamanan konsumen.

Shobirin mengatakan konsumen masih memperhatikan akurasi informasi jarak tempuh dan daya tahan baterai. Kedua aspek tersebut penting untuk memperkirakan kemampuan kendaraan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari.

"Kehadiran Blade Battery 2.0 dan Flash Charging juga menjadi perkembangan menarik karena menjawab pertanyaan yang selama ini sering muncul dalam proses edukasi konsumen, khususnya mengenai waktu pengisian daya," ujarnya.

Kondisi infrastruktur di Indonesia yang belum merata turut memengaruhi pilihan teknologi kendaraan. Konsumen di wilayah dengan akses SPKLU terbatas membutuhkan fleksibilitas lebih besar, terutama untuk perjalanan jarak jauh.

Salah satu teknologi yang ditawarkan BYD adalah Dual Mode (DM), yang mengombinasikan penggerak listrik dan mesin pembakaran internal. Sistem tersebut membuat kendaraan dapat menggunakan tenaga listrik sekaligus memanfaatkan mesin sesuai kebutuhan.

Menurut Shobirin, pengembangan kendaraan listrik perlu diimbangi dengan perluasan infrastruktur pengisian daya. Edukasi mengenai teknologi kendaraan juga diperlukan agar konsumen memahami pilihan yang tersedia.

Melalui jaringan dealernya, Haka Auto memberikan edukasi kepada konsumen mengenai teknologi kendaraan listrik. Namun, keputusan pembelian tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan mobilitas dan kondisi infrastruktur di masing-masing wilayah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.