Tekno

China Bangun Data Center Bawah Laut dengan 2.000 Server

Winna Wandayani | 16 September 2026, 20:36 WIB
China Bangun Data Center Bawah Laut dengan 2.000 Server
China Bangun Data Center Bawah Laut dengan 2.000 Server (timesofindia.indiatimes.com)

AKURAT.CO China mulai mengoperasikan data center bawah laut komersial di lepas pantai Shanghai. Fasilitas ini menempatkan sekitar 2.000 server di dasar laut dan terhubung langsung dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.

Data center tersebut berada sekitar 10 meter di bawah permukaan laut dan lebih dari 10 kilometer dari daratan. Fasilitas berkapasitas 24 megawatt (MW) ini menggunakan air laut untuk membantu mendinginkan server.

Proyek tersebut menelan investasi sekitar 1,6 miliar yuan atau sekitar Rp4,2 triliun. Pengembangannya dilakukan HiCloud Technology bersama perusahaan milik negara China Communications Construction.

Dikutip dari The Times of India, Rabu (16/9/2026), operasional komersial dimulai pada Mei 2026 setelah menjalani uji coba pada Februari. Pembangunan fasilitas ini sendiri telah rampung pada Oktober 2025.

Data center bawah laut tersebut digunakan untuk kebutuhan komputasi yang membutuhkan kapasitas besar. Penggunaannya mencakup pelatihan kecerdasan buatan (AI), anotasi data skala besar, hingga pengembangan large language model (LLM) lokal.

China Telecom dan sejumlah penyedia layanan lokal turut memanfaatkan kapasitas komputasi dari fasilitas tersebut. Pengembang mengklaim data center ini memiliki power usage effectiveness (PUE) sekitar 1,15.

Penggunaan air laut diklaim mampu mengurangi konsumsi listrik hingga 22,8 persen. Sistem tersebut juga tidak menggunakan air tawar untuk proses pendinginan server.

Konsep data center bawah laut sebenarnya bukan hal baru karena pernah diuji Microsoft melalui Project Natick. Pada 2018, Microsoft menenggelamkan kapsul berisi 855 server ke dasar Laut Utara dekat Kepulauan Orkney.

Kapsul tersebut kemudian diangkat pada 2020 setelah menjalani pengujian selama sekitar dua tahun. Dari 855 server, hanya enam yang mengalami kegagalan selama berada di dasar laut.

Sebagai pembanding, delapan dari 135 server pada kelompok pengujian di daratan mengalami kegagalan. Hasil tersebut menghasilkan tingkat kegagalan sekitar 0,7 persen di bawah laut dan 5,9 persen di darat.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.