Tekno

Mengapa Google Memilih Suara Perempuan? Mengungkap Rahasia di Balik Asisten Virtual

Ananda Hartono | 28 Mei 2024, 17:34 WIB
Mengapa Google Memilih Suara Perempuan? Mengungkap Rahasia di Balik Asisten Virtual

Tekno.akurat.co-Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan asisten virtual berbasis suara seperti Google Assistant telah meningkat pesat.

Salah satu aspek menarik dari teknologi ini adalah pilihan suara yang digunakan untuk asisten virtual tersebut.

Sebagian besar asisten virtual, termasuk Google Assistant, menggunakan suara perempuan sebagai default.

Dalam ulasan kali ini kami akan membahas alasan di balik keputusan ini, melihatnya dari perspektif sejarah, psikologis, dan teknis.

Baca Juga: Memahami Tapera: Cara Kerja dan Manfaatnya bagi Masyarakat Indonesia

Sejarah Penggunaan Suara Perempuan dalam Teknologi

Penggunaan suara perempuan dalam teknologi bukanlah fenomena baru. Sejak era perang dunia kedua, suara perempuan sudah digunakan dalam berbagai teknologi komunikasi.

Contohnya, di dunia penerbangan, suara perempuan sering digunakan dalam
sistem peringatan kokpit pesawat.

Alasannya adalah suara perempuan dianggap lebih mudah didengar dan dibedakan dalam
situasi darurat.

Selain itu, beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa suara perempuan lebih mudah didengarkan dan diikuti oleh mayoritas orang.

Baca juga: Mengenal CRM, Alat Penting untuk Membangun Fondasi Bisnis Yang Kokoh

Hal ini kemudian diterapkan dalam berbagai teknologi lain, termasuk mesin penjawab telepon dan sistem navigasi GPS.

Alasan Google Menggunakan Suara Perempuan

Perspektif Psikologis

Salah satu alasan utama penggunaan suara perempuan adalah dari perspektif psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa suara perempuan cenderung lebih menenangkan dan ramah di telinga pengguna.

Dalam konteks asisten virtual, yang sering digunakan untuk membantu tugas sehari-hari, memberikan informasi, atau bahkan sekedar mengobrol, penting bagi suara yang
digunakan untuk terdengar menyenangkan dan tidak mengintimidasi.

Dalam studi yang dilakukan oleh Stanford University, ditemukan bahwa mayoritas responden lebih memilih suara perempuan dibandingkan suara laki-laki untuk asisten virtual mereka.

Baca Juga: Google Luncurkan Web Search Terbaru, Lebih Sederhana, Lebih Cepat, dan Lebih Efisien

Ini bukan hanya soal preferensi, tapi juga soal kenyamanan. Suara perempuan seringkali diasosiasikan dengan kehangatan dan dukungan, yang membuat interaksi dengan teknologi terasa lebih manusiawi.

Aspek Sosial dan Budaya

Dalam banyak budaya, suara perempuan sering dihubungkan dengan peran mengasuh dan memberikan dukungan.

Stereotip ini, meskipun kadang dianggap kuno, tetap mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap suara yang terdengar di teknologi asisten virtual.

Misalnya, di banyak iklan dan media, suara perempuan digunakan untuk menggambarkan karakter yang membantu atau mendukung.

Baca Juga: OpenAI Siap Bersaing Dominasi Google Dengan Teknologi AI Terbaru

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh perusahaan teknologi menunjukkan bahwa pengguna lebih responsif terhadap instruksi yang diberikan oleh suara perempuan.

Ini dapat dikaitkan dengan stereotip gender yang ada di masyarakat, di mana suara perempuan dianggap lebih sabar dan teliti.

Meskipun stereotip ini tidak sepenuhnya benar atau adil, mereka tetap memainkan peran dalam desain produk teknologi.

Alasan Teknis dan Desain

Dari perspektif teknis, memilih suara perempuan juga memiliki keunggulan. Suara perempuan biasanya memiliki frekuensi yang lebih tinggi, yang membuatnya lebih jelas terdengar di berbagai kondisi lingkungan.

Baca Juga: Tips Terbaru Untuk Membuat Link Google Meet Dalam Sekejap 2024

Ini sangat penting untuk asisten virtual yang harus beroperasi dalam berbagai situasi akustik, dari lingkungan rumah yang tenang hingga jalanan yang sibuk.

Selain itu, dalam proses sintesis suara, frekuensi suara yang lebih tinggi cenderung lebih mudah untuk diolah menjadi suara yang jelas dan natural.

Hal ini membantu dalam menghasilkan suara yang terdengar lebih alami dan menyenangkan bagi pengguna.

Keberagaman dan Pilihan Pengguna

Meskipun suara perempuan sering dijadikan default, penting untuk dicatat bahwa banyak perusahaan teknologi, termasuk Google, telah mulai menawarkan berbagai pilihan suara untuk asisten virtual mereka.

Pengguna sekarang dapat memilih suara laki-laki, berbagai aksen, dan bahkan suara selebriti untuk asisten virtual mereka. Ini menunjukkan komitmen untuk memberikan pengalaman yang lebih inklusif dan sesuai dengan preferensi individu.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.