Tekno

Data Center di Luar Angkasa Bisa Lahirkan Masalah Baru 'Sampah Elektronik' di Orbit

Yusuf Tirtayasa | 23 Agustus 2026, 16:06 WIB
Data Center di Luar Angkasa Bisa Lahirkan Masalah Baru 'Sampah Elektronik' di Orbit
Data Center di Luar Angkasa Bisa Lahirkan Masalah Baru 'Sampah Elektronik' di Orbit. (Ilustrasi AI)

AKURAT.CO Gagasan menempatkan pusat data di luar angkasa terdengar seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah. Server dibawa ke orbit, kemudian digunakan untuk menjalankan kecerdasan buatan tanpa harus menempatkan seluruh infrastruktur komputasi di Bumi.

SpaceX bahkan membayangkan skala yang sangat besar: konstelasi hingga 1 juta satelit AI. Tetapi ada pertanyaan yang jarang dibicarakan: apa yang terjadi ketika satelit-satelit tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi?

Dikutip dari Ars Technica, rencana tersebut berpotensi menciptakan kategori baru sampah elektronik, bukan di tempat pembuangan akhir di Bumi, melainkan di sekitar planet kita.

200 Ribu Satelit Bisa Pensiun Setiap Tahun

Perhitungan Ars Technica menggunakan perkiraan masa pakai GPU sekitar lima tahun. Jika konstelasi tersebut benar-benar mencapai 1 juta satelit, sekitar 200.000 satelit dapat dinonaktifkan setiap tahun setelah konstelasi beroperasi penuh.

Masalahnya, satelit yang sudah tidak berfungsi tidak bisa begitu saja dibawa ke pusat daur ulang. Berdasarkan pengajuan SpaceX kepada FCC pada 29 Mei, diperkirakan sekitar 40.000 satelit per tahun dapat diturunkan kembali ke atmosfer dan terbakar.

Sebagian lainnya dapat dipindahkan ke orbit pembuangan yang lebih jauh dari Bumi. Dari sudut pandang siklus material, keduanya memiliki masalah.

Material yang terbakar di atmosfer tidak lagi mudah dikembalikan ke dalam sistem produksi. Sementara satelit yang dipindahkan ke orbit pembuangan pada dasarnya tetap berada di luar jangkauan proses daur ulang biasa.

Dengan kata lain, konsep pusat data di orbit menghadirkan bentuk e-waste yang secara harfiah meninggalkan Bumi. Yang menarik, Ars Technica bahkan mencoba menghitung kandungan materialnya.

Dengan asumsi sangat konservatif bahwa setiap satelit AI1 hanya terdiri dari 72 GPU A100 tanpa komponen lain, analisis tersebut memperkirakan material yang dapat “diekspor” ke luar angkasa setiap tahun mencakup sekitar 1.000 ton tembaga, 170 kilogram emas, hampir 2 ton perak, lebih dari 20 ton bismut dan titanium, lebih dari 2 ton paladium, serta 76 kilogram talium.

Perlu ditekankan, angka tersebut bukan perkiraan berat sebenarnya dari seluruh satelit. Penulis menggunakan asumsi GPU sebagai titik awal karena spesifikasi lengkap satelit AI1 belum tersedia.

Teknologi Masa Depan, Masalah Lama

Ironisnya, konsep ini memiliki kemiripan dengan gagasan penambangan asteroid. Dalam asteroid mining, manusia membayangkan mengambil material berharga dari luar angkasa dan membawanya kembali untuk digunakan.

Dalam skenario pusat data orbital, sebagian material justru bergerak ke arah sebaliknya: material berharga dari Bumi dikirim ke orbit dan pada akhirnya mungkin menjadi sulit atau mustahil untuk digunakan kembali.

Ars Technica menggunakan pendekatan tersebut untuk menghitung seberapa besar asteroid yang diperlukan jika seseorang ingin mendapatkan kembali sejumlah material yang hilang setiap tahun.

Sebagai contoh, kandungan tembaga yang diperkirakan hilang setiap tahun setara dengan material yang terdapat dalam asteroid berdiameter sekitar 140–190 meter. Untuk jumlah timah yang sama, dibutuhkan asteroid dengan ukuran sekitar 530 meter.

Namun persoalan lingkungan bukan satu-satunya tantangan. SpaceX sebelumnya juga menghadapi pertanyaan teknis mengenai bagaimana pusat data dapat beroperasi di ruang angkasa.

Tidak ada udara di sana, sehingga sistem tidak bisa menggunakan konveksi seperti pusat data di Bumi. Panas harus dibuang terutama melalui radiasi termal, yang membutuhkan sistem radiator besar.

Ada pula persoalan peluncuran. Analisis Ars Technica sebelumnya memperkirakan bahwa mempertahankan konstelasi 1 juta satelit dengan masa hidup sekitar lima tahun akan membutuhkan ribuan peluncuran setiap tahun, tergantung asumsi jumlah satelit yang dapat dibawa setiap peluncuran.

Semua itu membuat pusat data orbital masih jauh dari sekadar “membawa server ke luar angkasa”. Teknologinya mungkin dapat dikembangkan. Tetapi semakin besar skalanya, semakin besar pula pertanyaan mengenai energi, peluncuran, panas, radiasi, biaya, dan akhirnya nasib perangkat keras yang sudah tidak digunakan.

Ironisnya, ketika manusia mencoba membawa pusat data ke tempat yang dianggap “bersih” dari sebagian masalah di Bumi, kita justru mungkin menciptakan masalah limbah baru di luar planet.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.