Kenapa Kejahatan Siber Semakin Sering Menargetkan Pengguna Biasa?

AKURAT.CO Serangan siber kini tidak lagi hanya menyasar perusahaan besar atau lembaga pemerintah. Pengguna internet biasa justru semakin sering menjadi target karena dianggap lebih mudah diperdaya dan jumlahnya jauh lebih banyak.
Perkembangan layanan digital membuat setiap orang memiliki banyak akun, mulai dari media sosial, e-commerce, hingga mobile banking. Semakin banyak akun yang dimiliki, semakin besar pula peluang pelaku kejahatan siber mencari celah untuk menyerang.
Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah phishing. Pelaku berusaha mengelabui korban agar menyerahkan password, kode OTP, atau informasi penting lainnya.
Untuk melancarkan aksinya, penipu biasanya menyamar sebagai bank, perusahaan ekspedisi, marketplace, atau layanan digital yang sudah dikenal. Cara ini membuat korban lebih mudah percaya dan mengikuti instruksi yang diberikan.
Meski modusnya masih sama, cara pelaku menjalankan aksinya kini semakin berkembang. Jika dulu email penipuan mudah dikenali karena banyak salah ketik, kini pesannya terlihat jauh lebih rapi dan meyakinkan.
Perubahan tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pelaku dapat memanfaatkan AI untuk membuat pesan yang terdengar lebih alami dan menyerupai komunikasi resmi.
Dikutip dari Reuters, Senin (20/7/2026), chatbot AI populer dapat membantu menyusun email phishing yang lebih meyakinkan, bahkan memberikan saran mengenai waktu pengiriman dan isi pesan. Hal ini membuat penipuan dapat dilakukan lebih cepat, lebih murah dan dalam skala yang jauh lebih besar.
Bagi pelaku kejahatan siber, menyerang ribuan pengguna sekaligus sering kali lebih menguntungkan daripada membobol satu perusahaan besar. Pelaku hanya membutuhkan sebagian kecil korban yang tertipu untuk mendapatkan keuntungan.
Keuntungan tersebut tidak hanya berasal dari pencurian uang, tetapi juga data pribadi. Informasi seperti alamat email, nomor telepon, hingga akun login memiliki nilai jual di forum ilegal.
Data yang dicuri juga bisa dimanfaatkan untuk melancarkan serangan berikutnya. Bahkan, data tersebut kerap diperjualbelikan kepada kelompok kejahatan siber lainnya.
Risiko akan semakin besar jika pengguna memakai password yang sama di banyak akun. Ketika satu akun berhasil dibobol, pelaku dapat mencoba kombinasi email dan password tersebut pada layanan lain.
Karena itu, pakar keamanan siber menyarankan pengguna tidak hanya mengandalkan password sebagai perlindungan utama. Mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) dan menggunakan password yang berbeda di setiap akun dapat membantu meningkatkan keamanan.
Selain itu, pengguna juga disarankan selalu memeriksa alamat situs sebelum memasukkan data pribadi. Hal sederhana ini dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan maupun pencurian akun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Mobil Listrik Mungil Ini Punya Desain Mirip Toyota Alphard, Tenaganya Cuma 5 HP
- 2Galaxy S27 Ultra Bocor, Samsung Siapkan Empat Warna Baru?
- 3iPhone 18 Pro vs Galaxy S26 Ultra, Mana yang Lebih Unggul?
- 4YouTube Festival Indonesia 2026 Soroti Perubahan Konsumsi Konten Digital
- 5Pemerintah Siapkan Panduan AI untuk Sektor Kesehatan hingga Keuangan
- 6Realme P4s Lite Resmi Meluncur dengan Layar 120Hz dan Baterai 7.000 mAh
- 7Cara Melacak HP Android yang Hilang dengan Fitur Find My Device
- 8Mercedes-Benz Pangkas Sejumlah Mobil Listrik Mulai 2027
- 9POCO F9 Ultra dan F9 Pro Masuk Indonesia, Bawa Snapdragon 8 Elite Gen 5
- 10Huawei Watch GT 7 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Mulai Rp3 Jutaan









