Tekno

Mengapa 5G Belum Menjadi Game Changer di Indonesia?

Winna Wandayani | 14 Mei 2026, 17:12 WIB
Mengapa 5G Belum Menjadi Game Changer di Indonesia?
Ilustrasi 5G (Freepik)

AKURAT.CO 5G sempat dijanjikan sebagai yang akan mengubah banyak hal. Mulai dari internet super cepat, mobil tanpa sopir, hingga kota pintar.

Namun setelah beberapa tahun hadir secara komersial di Indonesia, dampaknya belum terlalu terasa. Bagi banyak pengguna, pengalaman memakai 5G masih terasa biasa saja.

Sebagian masyarakat bahkan belum merasakan perbedaan besar antara 4G dan 5G. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

1. Infrastruktur 5G Indonesia Masih Setengah Jalan

Masalah terbesar 5G di Indonesia bukan hanya soal jumlah BTS. Spektrum dan kesiapan jaringan juga menjadi tantangan besar.

Beberapa negara seperti Korea Selatan dan China sudah memiliki spektrum mid-band yang luas untuk 5G. Sementara itu, operator di Indonesia masih terbatas mengakses frekuensi ideal seperti 3,5 GHz.

Padahal frekuensi tersebut menjadi tulang punggung 5G modern. Frekuensi ini dinilai mampu menghadirkan kombinasi kecepatan dan cakupan jaringan yang optimal.

Biaya spektrum yang mahal dapat memperlambat pengembangan 5G di Indonesia. Jika kondisi ini terus berlanjut, cakupan 5G nasional diperkirakan bisa tertinggal lebih dari 20 persen pada 2030, sebagaimana dikutip dari GSMA, Rabu (13/5/2026).

Akibatnya, operator memilih memperluas 5G secara bertahap di area tertentu lebih dulu. Bagi pengguna, situasi ini membuat pengalaman 5G kadang terasa tidak jauh berbeda dibanding 4G.

2. Operator Mulai Fokus Cari Uang, Bukan Sekadar Kecepatan

Di awal kemunculannya, industri telekomunikasi global berlomba-lomba membangun jaringan 5G. Banyak operator ingin terlihat sebagai yang paling inovatif dan paling cepat mengadopsi teknologi baru.

Namun seiring waktu, situasinya mulai berubah. Operator mulai sadar bahwa pembangunan jaringan 5G membutuhkan investasi yang sangat besar.

Di sisi lain, pendapatan dari pelanggan belum meningkat signifikan. Kondisi ini membuat banyak perusahaan telekomunikasi mulai lebih berhati-hati dalam memperluas jaringan 5G.

Karena itu, fokus industri kini bergeser. Operator tidak lagi hanya fokus membangun 5G, tetapi juga mencari cara menghasilkan uang dari teknologi tersebut.

Dikutip dari Ericsson, operator mulai mengembangkan model bisnis baru seperti FWA dan layanan industri. Sayangnya, perubahan ini belum terlalu terasa bagi pengguna biasa.

Di Indonesia, kondisi ini makin terasa karena rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) telekomunikasi masih relatif rendah dibanding negara maju. Operator harus berhitung ketat sebelum memperluas jaringan secara agresif.

3. Konsumen Belum Benar-Benar Membutuhkan 5G

Ini kenyataan yang jarang dibahas: sebagian besar pengguna sebenarnya masih cukup puas dengan jaringan 4G. Untuk kebutuhan sehari-hari, kecepatan internet saat ini dianggap sudah cukup memadai.

Untuk aktivitas harian seperti TikTok, YouTube, Instagram, streaming musik, atau chat, jaringan 4G yang stabil sudah memadai. 5G baru terasa penting untuk kebutuhan tertentu seperti:

- Cloud gaming

- Video 8K

- AR/VR

- Otomasi industri

- Kendaraan otonom

- Komunikasi real-time berlatensi rendah.

Masalahnya, ekosistem layanan berbasis 5G juga belum berkembang luas di Indonesia. Akibatnya, masyarakat belum melihat alasan kuat untuk beralih ke 5G, apalagi jika harus membeli ponsel baru atau paket data yang lebih mahal.

Fenomena ini sebenarnya juga terjadi secara global. Banyak negara menghadapi tantangan serupa: teknologi 5G berkembang lebih cepat daripada kebutuhan riil konsumen.

Baca Juga: Acer Rilis Tablet Iconia iM11 5G, Usung Layar 11,45 Inci dan Chip Dimensity 7050

4. Cakupan Luas Indonesia Jadi Tantangan Besar

Indonesia bukan negara yang mudah untuk membangun jaringan telekomunikasi. Kondisi geografis dan wilayah yang luas menjadi tantangan tersendiri bagi operator.

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan wilayah geografis yang kompleks, biaya pembangunan infrastruktur jauh lebih mahal dibanding negara dengan daratan terpusat. Operator harus mempertimbangkan:

- Pembangunan BTS

- Backhaul fiber

- Listrik

- Distribusi perangkat

- Potensi jumlah pelanggan di suatu daerah.

Karena itu, rollout 5G lebih realistis dimulai dari kota besar dan kawasan bisnis. Dikutip dari Opensignal, Indonesia belum masuk kategori rollout 5G nasional penuh seperti beberapa negara Asia lainnya.

Artinya, pengalaman 5G di Indonesia masih sangat bergantung lokasi. Di pusat kota mungkin cepat, tetapi beberapa kilometer di luar area tertentu, pengguna bisa kembali ke 4G.

5. Harga Internet Murah Justru Jadi Dilema

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tarif internet mobile yang relatif murah. Bagi konsumen, kondisi ini tentu terasa menguntungkan.

Namun bagi operator telekomunikasi, situasinya jauh lebih rumit. Mereka tetap harus membangun jaringan baru dan membeli spektrum dengan biaya besar.

Operator juga perlu meningkatkan kapasitas jaringan dan menjaga kualitas layanan. Sementara itu, pendapatan dari pelanggan tidak naik setinggi biaya investasi yang dikeluarkan.

Inilah sebabnya operator kini lebih selektif dalam memperluas jaringan 5G. GSMA bahkan mencatat biaya spektrum di Indonesia tergolong tinggi dibanding rata-rata global maupun Asia Pasifik.

Di sisi lain, konsumen sudah terbiasa dengan internet murah dan kuota besar. Ketika operator mencoba menjual layanan premium berbasis 5G, respons pasar belum tentu positif.

Lalu, apakah 5G bisa disebut gagal? Jawabannya, belum.

Masalahnya, ekspektasi terhadap 5G sejak awal memang terlalu tinggi. Banyak orang berharap teknologi ini langsung mengubah kehidupan sehari-hari.

Sebagian masyarakat membayangkan 5G akan menghadirkan perubahan besar seperti saat transisi dari 3G ke 4G. Padahal dampak terbesar 5G kemungkinan justru lebih terasa di sektor industri dan layanan digital.

Di banyak negara, perkembangan 5G memang berjalan lebih lambat dari hype awalnya. Indonesia juga menghadapi tantangan seperti biaya spektrum mahal dan investasi jaringan yang besar.

Selain itu, monetisasi 5G belum sepenuhnya matang dan kebutuhan konsumen juga belum terlalu mendesak. Karena itu, 5G saat ini lebih terlihat sebagai fondasi jangka panjang dibanding revolusi instan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.