Tekno

Apa Itu Ransomware Yang Menyerang Pusat Data Nasional? Berikut Cara Pencegahannya

Varin VC | 25 Juni 2024, 18:55 WIB
Apa Itu Ransomware Yang Menyerang Pusat Data Nasional? Berikut Cara Pencegahannya

Tekno.akurat.co-Pusat Data Nasional menjadi sasaran serangan ransomware yang menyebabkan kekacauan dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan siber di Indonesia.

Serangan ini menunjukkan bahwa ancaman siber semakin nyata dan dapat menargetkan infrastruktur kritis negara. Berikut adalah penjelasan tentang apa itu ransomware dan bagaimana serangan ini mempengaruhi Pusat Data Nasional.

 Apa Itu Ransomware?

Ransomware adalah jenis perangkat lunak berbahaya (malware) yang mengenkripsi data di komputer atau jaringan, sehingga tidak dapat diakses oleh pemiliknya. Pelaku serangan kemudian meminta tebusan (ransom) untuk memberikan kunci dekripsi yang diperlukan untuk memulihkan data. Ransomware dapat menyebar melalui berbagai metode, termasuk email phishing, unduhan berbahaya, dan kerentanan perangkat lunak yang belum ditambal.

Baca Juga: Iklan Muncul Sendiri Saat Mengoperasikan Android, Itu Bisa Jadi ada Virus, Berikut Cara Membersihkan Virus di HP Paling Cepat dan Ampuh

Bagaimana Ransomware Bekerja?

Ransomware masuk ke sistem melalui metode seperti lampiran email yang terinfeksi atau situs web berbahaya.

Setelah masuk, ransomware mengenkripsi data di sistem yang terinfeksi, membuatnya tidak dapat diakses oleh pengguna.

Pesan muncul di layar yang menginformasikan pengguna bahwa data mereka telah dienkripsi dan menuntut pembayaran tebusan untuk mengembalikan akses ke data tersebut. Pelaku serangan meminta pembayaran dalam bentuk cryptocurrency untuk menjaga anonimitas.

Serangan Terhadap Pusat Data Nasional

Pada akhir pekan lalu, Pusat Data Nasional mengalami serangan ransomware yang signifikan. Menurut laporan awal, sistem penting dan data sensitif telah dienkripsi oleh pelaku serangan. Akibatnya, operasi di berbagai sektor terganggu, dan upaya untuk memulihkan sistem sedang berlangsung.

Dampak Serangan

Layanan pemerintah yang bergantung pada Pusat Data Nasional mengalami gangguan, mempengaruhi administrasi publik dan layanan kepada warga.

Data sensitif yang dienkripsi oleh ransomware berisiko digunakan untuk tujuan jahat jika pelaku serangan berhasil mendapatkan tebusan.

Selain biaya potensial untuk membayar tebusan, ada juga biaya yang terkait dengan pemulihan sistem dan meningkatkan keamanan untuk mencegah serangan serupa di masa depan.

Pihak berwenang telah mengambil langkah-langkah untuk menangani serangan ini, termasuk bekerja sama dengan pakar keamanan siber untuk memulihkan data yang terenkripsi dan meningkatkan pertahanan sistem.

Selain itu, pemerintah sedang menyelidiki sumber serangan dan berusaha untuk menemukan pelaku di balik serangan ini.

Baca Juga: Inilah Berbagai Macam Malware Yang Terdapat Pada HP Android Yang Perlu di Ketahui

Cara Mencegah Agar Tidak Terserang Ransomware

Serangan ransomware ini menjadi pengingat pentingnya keamanan siber yang kuat, terutama bagi infrastruktur kritis negara. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah serangan serupa di masa depan meliputi:

  • Melatih staf tentang cara mengenali email phishing dan praktik keamanan yang baik.
  • Memastikan bahwa semua perangkat lunak dan sistem operasi diperbarui dengan patch keamanan terbaru.
  • Melakukan backup data secara rutin dan menyimpan cadangan tersebut secara terpisah dari jaringan utama.
  • Menggunakan firewall, antivirus, dan perangkat lunak keamanan lainnya untuk melindungi jaringan dari ancaman.

Serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional menunjukkan betapa pentingnya keamanan siber dalam menjaga infrastruktur kritis negara.

Dengan memahami apa itu ransomware dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat melindungi data dan sistem dari ancaman serupa di masa depan.

Pemerintah dan lembaga terkait harus terus meningkatkan pertahanan siber mereka untuk menghadapi ancaman yang semakin canggih.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.