Pro-Kontra Inovasi Teknologi yang Mendorong Gaya Hidup Masa Depan

akurat logo
Ahmad Muhajir
Sabtu, 30 Desember 2017 22:01 WIB
Share
 
Pro-Kontra Inovasi Teknologi yang Mendorong Gaya Hidup Masa Depan
Ilustrasi inovasi teknologi. AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, Mobil otomom akan melaju untuk ditunggangi. Pakaian akan mengirimkan sinyal ke dokter tentang penyakit yang akan datang. Bahan makanan akan sampai di depan pintu sesuai daftar kulkas yang dikirim dari supermarket.

Ini semua terdengar seperti dunia fiksi ilmiah, tapi itu kemungkinan terjadi.

Laju perubahan teknologi yang sedang dialami dunia saat ini memusingkan. Apa yang tampak di luar imajinasi bisa berubah menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

Sementara itu, ketidaksepakatan muncul di kalangan ilmuwan dan kaum terpelajar mengenai apakah putaran keempat revolusi industri sedang mendekat.

Seorang profesor yang mempelajari teknologi dan politik di Hebrew University of Jerusalem Alon Peled, percaya bahwa lingkup perkembangan saat ini tidak terbatas, hanya terbatas oleh imajinasi masyarakat, bukan teknologi yang tersedia bagi mereka.

"Pertanyaannya menjadi: apa batas imajinasi manusia? Kita bisa melakukan lebih banyak lagi dan kita sangat terbatas pada apa yang kita bayangkan dan dimana hal itu bisa terwujud," ungkapnya, seperti dilansir dari Xinhua, Sabtu (30/12).

Teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi lebih umum, perkembangan teknologi ini akan membuatnya ada dimana-mana dalam kehidupan sehari-hari.

"AI memiliki semua DNA yang dibutuhkan untuk menciptakan revolusi. Seperti internet, ia masuk ke dalam setiap area kehidupan: mobil, kulkas di rumah dan perangkat lunak yang digunakan bank untuk mengelola akun kita," kata David Mendlovic, seorang profesor di Departemen Teknik Elektro-Fisika Elektronika di Universitas Tel Aviv.

Menurut MIT Technology Review, 2017 telah melihat perkembangan beberapa teknologi dengan kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam dekade-dekade yang akan datang.

Pembayaran dengan pengenalan wajah, konversi tenaga surya yang akan menurunkan harga energi, dan pemetaan sel manusia hanyalah beberapa revolusi mini yang sedang berlangsung. Namun, sebuah koin memiliki dua sisi.

Otomatisasi fungsi sehari-hari diharapkan bisa mengurangi sebagian besar profesi. Pemerintah harus menangani masalah ini sebelum menghadapi jutaan warga menganggur.

"Bagaimana Anda menemukan pekerjaan bagi mereka yang akan keluar dari angkatan kerja industri karena robot dan mesin yang menggantikannya? Ini adalah sesuatu yang harus kita pikirkan sekarang," ujar Presiden Technion Israel Institute of Technology, Peretz Lavie.

Apalagi, seiring kehidupan sehari-hari menjadi semakin online, keterpaparan terhadap invasi privasi tumbuh. Data medis antara pasien dan dokter dibagi melalui internet. Transaksi perbankan dan fiskal sering dilakukan secara online.

Revolusi informasi merupakan pencapaian menakjubkan lainnya dengan inovasi yang luar biasa yang mengubah perilaku sosial masyarakat di era digital. Psikolog A.S. Jean Twenge telah menamai generasi sekarang "iGen" dalam penelitiannya.

Dia telah menemukan dampak positif dan negatif dari apa yang dia sebut "kebangkitan smartphone dan media sosial" pada kaum muda saat ini.

Twenge mengatakan bahwa mereka "berada di ambang krisis mental-kesehatan terburuk dalam beberapa dasawarsa," dengan tingkat depresi dan bunuh diri yang tajam di kalangan remaja. Singkatnya, smartphone membuat mereka menjadi orang yang "marah".

"Kita perlu memastikan bahwa ketergantungan pada teknologi tidak akan mengubah perilaku sosial kita. Saya yakin kita masih belum sadar akan dampaknya," singgung Lavie.

Juga dengan perubahan cepat yang menyebar ke seluruh dunia, apakah kesenjangan antara negara berkembang dan negara maju akan menjadi pemicu berbagai perbedaan pendapat.

Lavie percaya bahwa celah tersebut akan semakin sempit atau hilang sehubungan dengan penerapan teknologi baru, bukan untuk menghasilkannya.

Tapi Peled mengatakan "Saya selalu melihat kesenjangan meningkat, tidak berkurang," memusatkan pada kemampuan masyarakat untuk menggunakan data terbuka di berbagai negara dengan tingkat perkembangan yang berbeda.

Angka terbaru menunjukkan bahwa tingkat konektivitas internet di Afrika sama dengan 20 tahun yang lalu.

Pada akhirnya, nasib putaran perkembangan industri saat ini bermuara pada pendidikan, baik di negara berkembang maupun negara maju. Membuat ruang kelas "pintar" tidak cukup, konten perlu diubah dan diperluas.

"Anda tidak bisa memajukan kemanusiaan hanya melalui internet. Kita perlu memajukan semuanya dalam hal yang sama. Kita membutuhkan pendidikan untuk inovasi, untuk inisiatif, untuk mencari yang tidak diketahui," pungkas Mendlovic.

Lavie menganggap sistem pendidikan saat ini terlalu konservatif. Universitas harus beradaptasi lebih cepat dari sekarang. Ilmu dan seni harus diberi perhatian yang sama.

"Alat-alat produksi kita berkembang sangat cepat, informasi kita meledak, dan satu hal yang tidak berkembang adalah konsep pendidikan kita, cara kita mengajar orang, cara kita memperbaiki sesuatu, bagaimana kita mengajarkannya menyelesaikan masalah," keluh Peled.[]


Editor. Islahuddin

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

WALHI: Hari Bumi Momentum Penyelamatan Lingkungan

Senin, 23 April 2018 05:20 WIB

Peringatan hari bumi dinilai seharusnya dapat menjadi momentum memperluas gerakan penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia.


Youbel Sondakh Beberkan Kunci Satria Muda Rebut Gelar Juara

Senin, 23 April 2018 05:05 WIB

Satria Muda memastikan gelar juara IBL musim 2017-2018 usai mengalahkan Pelita Jaya di laga final.


Meski Menang, Marquez Gagal Rebut Puncak Klasemen

Senin, 23 April 2018 04:51 WIB

Andrea Dovizioso merebut puncak klasemen sementara meski hanya finis kelima pada balapan GP Amerika Serikat.


Pemimpin China dan India Bertemu Pekan Ini, Apa Agendanya?

Senin, 23 April 2018 04:41 WIB

Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi akan bertemu di China pekan ini.


Jenazah Wakapolres Labuhanbatu Bawa ke Simalungan

Senin, 23 April 2018 04:18 WIB

Jenazah Wakapolres Labuhanbatu Kompol Adi Chandra telah dibawa ke Simalungan untuk dikebumikan pihak keluarga.


Dramatis, Napoli Tumbangkan Juventus Lewat Gol di Menit Akhir

Senin, 23 April 2018 04:01 WIB

Napoli berhasil menjaga asa untuk meraih gelar juara setelah mengalahkan Juventus.


250 TMP Bekasi Dukung Pasangan Hasanah di Pilgub Jabar

Senin, 23 April 2018 03:36 WIB

Sebanyak 250 Taruna Merah Putih (TMP) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar), mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Hasanah.


Demonstran Armenia Tak Terima Pemimpinnya Ditangkap

Senin, 23 April 2018 03:08 WIB

Ribuan demonstran anti-pemerintah berunjuk rasa di ibu kota Armenia, Yerevan, setelah polisi menangkap pemimpin mereka.


Marc Marquez Lanjutkan Dominasi di Amerika Serikat

Senin, 23 April 2018 03:03 WIB

Ini merupakan kemenangan keenam secara beruntun yang diraih The Baby Alien -julukan Marquez- pada GP Amerika Serikat.


Kapolda Papua Barat Siapkan Satbrimob Bantu Pengamanan Pilkada Papua

Senin, 23 April 2018 02:53 WIB

Satuan Brigade Mobil Polda Papua Barat telah menyiapkan personel untuk diperbantukan dalam kegiatan pengamanan Pemilihan Kepala Daerah.


City Jaga Peluang Pecahkan Rekor Liga Primer Inggris

Senin, 23 April 2018 02:15 WIB

City saat ini hanya berjarak enam angka dari rekor raihan poin terbanyak Liga Primer Inggris .


Bus Terguling di Magetan Tewaskan Tiga Orang

Senin, 23 April 2018 02:13 WIB

Tiga orang korban tewas akibat kecelakaan bus terguling di Magetan.


Tanggapi Pernyataan Ketum PPP, Fadli Zon: Duh Sungguh Dangkal Pemikiran Ini

Senin, 23 April 2018 01:50 WIB

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menanggapi pernyataan Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuzy.


Pria Telanjang Tembak Mati 3 Orang di Restoran AS

Senin, 23 April 2018 01:13 WIB

Seorang pria telanjang yang hanya memakai jaket warna hijau menembak mati tiga orang di restoran Waffle House, Amerika Serikat.


Inilah Susunan Pemain Juventus vs Napoli

Senin, 23 April 2018 01:01 WIB

Laga ini adalah kesempatan terakhir bagi Napoli untuk menjaga asa mereka meraih gelar juara.